Skip to Content
Lompat ke konten
Sekolah Alam Indonesia

Blog · 2 Desember 2025 · 2 menit baca

Sekolah Alam dan “Akademik”

Sekolah Alam dan “Akademik”

Siang tadi, saya mendapat pesan melalui WhatsApp dari Sanchia, salah satu lulusan pertama SAI Studio Alam yang kini belajar di University of British Columbia, Kanada. Dia mengingatkan kita pada satu hal penting:

“hasil dari pendidikan tidak selalu langsung terlihat, tapi akan muncul di saat-saat yang menentukan dalam hidup murid.”

Sanchia bercerita tentang oral test di masa sekolahnya di Sekolah Alam Indonesia dahulu. Saat itu, ia menganggap kegiatan tersebut hanya sekadar latihan berbicara dalam bahasa Inggris. Kini, ia menghadapi situasi yang jauh lebih kompleks: mempresentasikan riset cuaca di depan profesor dan mahasiswa doktoral. Ia tidak gentar. Ia merasa siap, karena pengalaman belajarnya dulu sudah membentuk dasar keterampilan berpikir dan berkomunikasi.

Yang dulu kita rancang sebagai kegiatan sederhana, ternyata menumbuhkan daya nalar dan kepercayaan diri akademik yang ia bawa hingga ke universitas luar negeri.

Sering kali kita mendengar pandangan bahwa Sekolah Alam “tidak akademik.” Pandangan ini muncul karena banyak yang masih memaknai akademik sebatas hafalan dan penguasaan materi untuk ujian. Padahal, belajar tidak berhenti di “mengingat” dan “memahami.” Dua ranah itu hanyalah pintu masuk. Tugas kita adalah membawa anak melangkah lebih jauh: menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Di titik itulah proses berpikir tingkat tinggi (HOTS) bisa tumbuh.

Sekolah Alam berdiri di ruang tersebut. Ruang yang menumbuhkan logika, nalar, dan imajinasi. Setiap proyek, diskusi, dan kegiatan lapangan bukan sekadar pengganti buku teks, tetapi jalan agar anak mengalami pengetahuan, bukan hanya mengulangnya.

Tulisan Sanchia adalah bukti hidup dari ruang belajar itu. Ia menunjukkan bahwa yang kita bangun di kelas dan di tempat-tempat destinasi outing bukan sekadar kegiatan tematik, tetapi sistem yang melatih anak untuk berpikir mandiri, komunikatif, dan reflektif.

Maka, ketika ada yang bertanya mengapa Sekolah Alam terlihat “tidak akademik,” mungkin yang harus kita lakukan adalah cukup tersenyum. Karena kita tahu, anak-anak kita sedang belajar di level yang tidak selalu bisa diukur dengan angka, tapi akan tampak dalam cara mereka berpikir, mengambil keputusan, dan berkarya.

Semoga cerita ini mengingatkan kita semua bahwa *tugas guru bukan hanya mengajar, tapi menanam daya tahan berpikir dan keberanian untuk terus belajar.* Karena di luar sana, murid-murid kita sedang memanen benih yang dulu kita tanam bersama. _Wallahu a'lam._

Tabik,

RP

Bagikan artikel ini: WhatsAppFacebook